PENERAPAN METODE BELAJAR TUNTAS SISWA AKTIF SEBAGAI UPAYA MEMBANTU MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR SISWA
Untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Manajemen Kurikulum
Dosen : Dr. Sumadi Sutrijat,M.Pd.
Program S2/MM Unsoed
Disusun oleh :
Susilo Budi Prakasya
NIRM. P2CC07082
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN
PURWOKERTO
2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum Berbasis Komptensi atau yang dikenal dengan KBK mengisyaratkan bahwa pembelajaran siswa harus sampai pada taraf pencapaian kompetensi pada setiap mata pelajarannya. Pencapaian taraf kompetensi itulah yang dikenal dengan ketuntasan belajar, artinya siswa yang belum dapat mencapai tingkat komptensi atau penguasaan pada suatu materi pelajaran berarti ia belum mencapai ketuntasan belajar.
Realitas di lapangan, pencapaian ketuntasan belajar siswa sering tidak diperhatikan, sering terjadi pada beberapa sekolah, oleh karena seorang siswa belum mencapai tingkat ketuntasan belajar oleh karena memperoleh nilai yang rendah yang tidak bias menjadi persyaratan kenaikan kelas, guru mengambil jalan pintas dengan memberikan remedial test, yakni dengan memberikan soal atau tugas dan kemudian memberikan nilai begitu saja, sehingga banyak siswa yang telah naik kelas, namun sebenarnya ia belum mencapai ketuntasan belajar pada kelas sebelumnya. Untuk itu maka perlu adanya methoda belajar tuntas agar siswa benar-benar dapat mencapai tingkat kompeensinya.
B. Permasalahan
Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka masalah yang timbul yang timbul adalah :
1.Bagaimana menerapkan metode belajar tuntas di sekolah agar siswa dapat mencapai kompetensi yang maksimal?
2.Faktor-faktor apa yang berpengaruh dalam mencapai ketuntasan belajar?
3.Bagaimana peranan guru mendorong siswa untuk aktif dalam mencapai ketuntasan belajar ?
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Definisi Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses , cara, menjadikan makhluk hadup belajar Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu , berubah tingkah laku atau tanggapa yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 1996: 14). Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula.
Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan uang bersifat fisik , tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan , bertambah, berkembang daya pikir , sikap dan lainlain.( Soetomo,1993: i20). Pasal I Undang- undang No. 20 tahun 2003 tantang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.
B. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar
1. Pengertian Belajar
Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para pakar antara lain bahwa yang dimaksud belajar yaitu perubahan siswa dalam bidang material , formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Belajar merupakan suatu perubahan pada sikap dan tingkah laku yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada tingkahlaku yang lebih buruk.
Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan harus merupakan akhir dari pada periode yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berlangsung, sulit ditentukan dengan pasti , tetapi perubahan itu hendaklah merupakanakhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari- hari, bermingguminggu,berbulan- bulan atau bertahun- tahun. Belajar merupakan suatuproses yang tidak dapat dilihat dengan nyata , proses itu terjadi pada diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud denganbelajar bukan tingkah laku yang nampak, tetapi proses terjadi secara internal di dalam diri indvidu dalam mengusahakan memperoleh hubungan- hubungan baru.
Belajar juga merupakan aktivitas atau usaha perubahan tingkah laku yang terjadi pada dirinya atau diri individu. Perubahan tingkah laku tersebutmerupakan pengalaman- pengalaman baru. Dengan belajar individu mendapatkan pengalaman- pengalaman baru. Perubahan dalam kepribadian yang menyatakan sebagai suatu pola baru dan pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Untuk mempertegas pengertian belajar penulis akan memberikan kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses lahir maupun batin pada diri individu untuk memperoleh pengalaman baru dengan jalan mengalami atau latihan.
2. Pengertian Prestasi Belajar
Sebelum dijelaskan mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu akandikemukakan tengtang pengertian prestasi. Sudah dijelaskan dimuka bahwa yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Dengan demikian prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan / aktivitas tertentu.
Jadi prestasi adalah hasil yang telah dicapai angka( kuantitatif) dan pernyataan verbal( kualitatif). Prestasi belajar yang dituangkan dalam bentuk angka misalnya 10, 9, 8, dan seterusnya. Sedangkan pretasi belajar yang dituangkan dalam bentuk pernyataan verbal misalnya, baik sekali, baik, sedang, kurang, dan sebagainya.
C. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Telah dikatakan dimuka bahwa belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian, ilmu pengetahuan. Sampai dimanakah perubahan itu dapat dicapai atau dengan kata lain dapat berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung pada macam- macam factor.Adapun factor- factor itu, dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut factor individu.
b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan factor social.
Berdasarkan factor yang mempengaruhi kegiatan belajar di atas menunjukkan bahwa belajar itu merupakan proses yang cukup kompleks. Aktivitas balajar individu memang tidak selamanya menguntungkan. Kadang- kadang juga tidak lancar., kadangmudah menangkap apa yang dipelajari, kadang sulit mencerna materi pelajaran. Dalam keadaan dimana anak didik/ siswa dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan belajar.
D. Strategi Menjadikan Siswa Aktif Sejak Awal
Dalam memulai pelajaran apapun, kita sangat perlu menjadikan siswa aktif semenjak awal. Jika tidak, kemungkinan besar kepasifan siswa akan melekat seperti semen yang butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Susunlah aktifitas pembuka yang menjadikan siswa lebih leluasa, ikut berfikir dan memperlihatkan minat terhadp pelajaranPengalaman- pengalaman ini dianggap sebagai hidangan pembuka sebelum makanan utama, pengalaman ini membuat siswa berselera
untuk menikmati hidangan selanjutnya. Memang ada sebagian guru yang memilih untuk memulai pelajaran hanya dengan pengenalan singkat, namun menambahkan setidaknya satu.latihan pembuka pada rencana pengajara..
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
A. Methoda Belajar Tuntas.
1. Pentingnya Penerapan Belajar Tuntas.
Dalam pembelajaran tuntas selalu akan mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan individual atau perorangan siswa dimana masing-masing siswa memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam mencapai ketuntasan belajar, sehingga tidak bisa menyeragamkan siswa dalam pencapaian ketuntasan belajar, ada yang cepat, sedang dan lamban dalam mencapai ketuntasan belajar.
Methode belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang berazazkan maju berkelanjutan artinya jika siswa telah menguasai suatu KD maka ia akan terus berupaya untuk menguasai KD berikutnya, untuk mempermudah hal itu maka dalam metode ini materi pembelajaran dipecah-pecah menjadi satuan-satuan, jadai seorang siswa yang mempelajari unit satuan pelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pelajaran berikutnya jika siswa yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75 % ( KKM yang telah ditentukan ).
Hal tersebut berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional dimana dalam pembelajaran itu dilakukan dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa dilakukan yang pendekatannya berpusat pada guru/Lembaga sedangkan metode yang banyak digunakan adalah metode ceramah dengan tatap muka sehingga sering kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajarsiswa.
2. Bentuk Layanan Dalam Pembelajaran Tuntas.
Bentuk layanan dalam pembelajaran tuntas dapat dilakukan dalam tiga bentuk yaitu :
a. Pelaksanaan Program Remedial, melalui 2 cara yang dapat ditempuh yaitu dengan : (1) Pemberian bimbingan secara khusus dan perorangan bagi siswa yang belum atau mengalami kesulitan dan (2) Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran regular. Adapun bentuk penyederhanaan dapat dilakukan a.l. melalui : penyederhanaan isi / materi pembelajaran; penyederhanaan cara penyajian (misalnya: banyak penggunakan gambar, model, skema, grafik, memberikan rangkuman yang sederhana, dll.); dan penyederhanaan soal / pertanyaan
Adapun materi dan waktu pelaksanaan program remedial ini dilakukan dengan teknik memberikan hanya pada KD-KD yang belum dikuasai yang dapat dilaksanakan :
a. Setelah mengikuti tes / ujian KD tertentu
b. Setelah mengikuti tes / ujian blok atau kesatuan KD tertentu
c. Setelah mengikuti tes / ujian semester. Khusus untuk remedi akhir semester hanya diberlakukan untuk blok terakhir dari blok-blok yang ada pada semester tertentu.
b. Pelaksanaan Program Pengayaan, yang dapat ditempuh melalui : (1) Pemberian bacaan tambahan atau berdiskusi yang bertujuan memperluas wawasan bagi KD tertentu; (2) Pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/paragraph, dll.; (3) Memberikan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan; (4) Membantu guru membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan.
c. Pelaksanaan Program Percepatan (Akselerasi) yakni bagi siswa yang memang memiliki kemampuan lebih, dia dapat mempercepat pencapaian ketuntasan belajar melebih siswa yang lain, misalnya seorang siswa dapat menempuh program pembelajan yang seharusnya ditempun selama 2 semester, ia dapat menempun dalam 1 atau 1,5 semester saja, dan telah mampu mencapai tingkat ketuntasan belajar yang ditetapkan, sehingga siswa tersebut dakan lebih cepat menuntaskan ketuntatasan belajarnya.
3.Implikasi Pembelajaran Tuntas.
Adapun Implikasi diterapkannya pembelajaran tuntas adalah, (a) disusunnya program layanan remidial, pengayaan dan percepatan; (b) Adanya pengembangan modul pembelajaran untuk masing-masing program tersebut; (c) Terlayaninya siswa secara individual dalam proses pembelajaran.
B. Faktot-Faktor Yang Mempengaruhi Ketuntasan belajar.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam ketuntasan belajar sebenarnya tidak jauh berbeda dengan factor-faktor yang berpengaruh dalam proses pembelajaran yaitu (1) factor eksternal, yang meliputi kondisi lingkungan yang berpengaruh baik langsung mapun tidak langsung terhadap siswa, seperti ruang belajar, suasana lingkungan, kelengkapan alat belajar, kondisi keluarga, keadaan ekonomi keluarga, dan lain sebagainya termasuk guru, gedung sekolah, kelas,dsb.; (2) factor internal yaitu kondisi dalam diri siswa itu sendiri, yang meliputi kecerdasan, bakat, minat, kemampuan, perhatian, kesehatan fisik mapun psikis/mental,dsb.
C. Cara Mendorong Agar Siswa Aktif Dalam pembelajaran.
Agar siswa dapat termotivasi untuk aktif dalam proses pembelajaran maka perlu ditinggalkan paradigma lama yakni janganlah lagi guru dipandang sebagai “ yang tahu segalanya “, melainkan sebagai katalisator terjadinya proses belajar siswa dan secara terus menerus berusaha menyempurnakan diri sehingga mampu menjadi katalisator yang semakin meningkat keampuhannya. Siswa jangan dijadikan objek tapi siswa sebagai subjek, siswa bukan menjadi penonton tapi ia sebagai pelaku dalam setiap proses pembelajaran.
Disamping itu, kemampuan guru untuk secara jeli mencari berbagai strategi pembelajaran sangatlah penting, sehingga siswa akan merasa tertarik untuk selalu meningkatkan kompetensinya sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dimana cirri-ciri pembelajaran KBK adalah antara lain :
Orientasi pada pencapaian hasil dan dampaknya ( outcome oriented )
Berbasis pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Bertolak dari kompetensi lulusan
Pengembangan kurikulum berddiferensi
Utuh dan menyeluruh serta menerapkan prinsip ketuntasan belajar.
BAB IV
Kesimpulan
Dari apa yang telah dipaparkan diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.Belajar tuntas adalah belajar yang mengaacu pada penguasaan satuan program pembelajaran yang harus dapat dicapai oleh setiap siswa, belajar tuntas dapat diterapkan melalui pembelajaran remedial, pengayaan dan percepatan (akselerasi)
2.Dalam proses pembelajaran untuk mencapai ketuntasan belajar banyak factor yang berpengaruh yaitu factor eksternal dan internal siswa.
3.Pembelajaran dengan metode belajar aktif memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa.
4.Penerapan metode belajar aktif yang dipadukan dengan teknik pembelajaran tuntas (Remidial, pengayaan dan percepatan ) mempunyai pengaruh positif ,yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
5.Dalam mencapai ketuntasan belajar dan mendorong agar siswa aktif dalam proses pembelajaran diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru untuk menerapkan strategi pembelajaran yang tepat. Untuk guru perlu selalu secara terus menerus meningkatkan profesionalisas dan kompetensinya.
=== o)oo(o ===