PENERAPAN METODE BELAJAR TUNTAS SISWA AKTIF SEBAGAI UPAYA MEMBANTU MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR SISWA

Untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Manajemen Kurikulum
Dosen : Dr. Sumadi Sutrijat,M.Pd.
Program S2/MM Unsoed

Disusun oleh :
Susilo Budi Prakasya
NIRM. P2CC07082

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN
PURWOKERTO
2009
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum Berbasis Komptensi atau yang dikenal dengan KBK mengisyaratkan bahwa pembelajaran siswa harus sampai pada taraf pencapaian kompetensi pada setiap mata pelajarannya. Pencapaian taraf kompetensi itulah yang dikenal dengan ketuntasan belajar, artinya siswa yang belum dapat mencapai tingkat komptensi atau penguasaan pada suatu materi pelajaran berarti ia belum mencapai ketuntasan belajar.
Realitas di lapangan, pencapaian ketuntasan belajar siswa sering tidak diperhatikan, sering terjadi pada beberapa sekolah, oleh karena seorang siswa belum mencapai tingkat ketuntasan belajar oleh karena memperoleh nilai yang rendah yang tidak bias menjadi persyaratan kenaikan kelas, guru mengambil jalan pintas dengan memberikan remedial test, yakni dengan memberikan soal atau tugas dan kemudian memberikan nilai begitu saja, sehingga banyak siswa yang telah naik kelas, namun sebenarnya ia belum mencapai ketuntasan belajar pada kelas sebelumnya. Untuk itu maka perlu adanya methoda belajar tuntas agar siswa benar-benar dapat mencapai tingkat kompeensinya.

B. Permasalahan
Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka masalah yang timbul yang timbul adalah :
1.Bagaimana menerapkan metode belajar tuntas di sekolah agar siswa dapat mencapai kompetensi yang maksimal?
2.Faktor-faktor apa yang berpengaruh dalam mencapai ketuntasan belajar?
3.Bagaimana peranan guru mendorong siswa untuk aktif dalam mencapai ketuntasan belajar ?

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses , cara, menjadikan makhluk hadup belajar Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu , berubah tingkah laku atau tanggapa yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI, 1996: 14). Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula.
Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan uang bersifat fisik , tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan , bertambah, berkembang daya pikir , sikap dan lainlain.( Soetomo,1993: i20). Pasal I Undang- undang No. 20 tahun 2003 tantang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.

B. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar
1. Pengertian Belajar
Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para pakar antara lain bahwa yang dimaksud belajar yaitu perubahan siswa dalam bidang material , formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Belajar merupakan suatu perubahan pada sikap dan tingkah laku yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada tingkahlaku yang lebih buruk.
Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan harus merupakan akhir dari pada periode yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berlangsung, sulit ditentukan dengan pasti , tetapi perubahan itu hendaklah merupakanakhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari- hari, bermingguminggu,berbulan- bulan atau bertahun- tahun. Belajar merupakan suatuproses yang tidak dapat dilihat dengan nyata , proses itu terjadi pada diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud denganbelajar bukan tingkah laku yang nampak, tetapi proses terjadi secara internal di dalam diri indvidu dalam mengusahakan memperoleh hubungan- hubungan baru.
Belajar juga merupakan aktivitas atau usaha perubahan tingkah laku yang terjadi pada dirinya atau diri individu. Perubahan tingkah laku tersebutmerupakan pengalaman- pengalaman baru. Dengan belajar individu mendapatkan pengalaman- pengalaman baru. Perubahan dalam kepribadian yang menyatakan sebagai suatu pola baru dan pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Untuk mempertegas pengertian belajar penulis akan memberikan kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses lahir maupun batin pada diri individu untuk memperoleh pengalaman baru dengan jalan mengalami atau latihan.

2. Pengertian Prestasi Belajar
Sebelum dijelaskan mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu akandikemukakan tengtang pengertian prestasi. Sudah dijelaskan dimuka bahwa yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Dengan demikian prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan / aktivitas tertentu.
Jadi prestasi adalah hasil yang telah dicapai angka( kuantitatif) dan pernyataan verbal( kualitatif). Prestasi belajar yang dituangkan dalam bentuk angka misalnya 10, 9, 8, dan seterusnya. Sedangkan pretasi belajar yang dituangkan dalam bentuk pernyataan verbal misalnya, baik sekali, baik, sedang, kurang, dan sebagainya.

C. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Telah dikatakan dimuka bahwa belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian, ilmu pengetahuan. Sampai dimanakah perubahan itu dapat dicapai atau dengan kata lain dapat berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung pada macam- macam factor.Adapun factor- factor itu, dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut factor individu.
b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan factor social.
Berdasarkan factor yang mempengaruhi kegiatan belajar di atas menunjukkan bahwa belajar itu merupakan proses yang cukup kompleks. Aktivitas balajar individu memang tidak selamanya menguntungkan. Kadang- kadang juga tidak lancar., kadangmudah menangkap apa yang dipelajari, kadang sulit mencerna materi pelajaran. Dalam keadaan dimana anak didik/ siswa dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan belajar.
D. Strategi Menjadikan Siswa Aktif Sejak Awal
Dalam memulai pelajaran apapun, kita sangat perlu menjadikan siswa aktif semenjak awal. Jika tidak, kemungkinan besar kepasifan siswa akan melekat seperti semen yang butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Susunlah aktifitas pembuka yang menjadikan siswa lebih leluasa, ikut berfikir dan memperlihatkan minat terhadp pelajaranPengalaman- pengalaman ini dianggap sebagai hidangan pembuka sebelum makanan utama, pengalaman ini membuat siswa berselera
untuk menikmati hidangan selanjutnya. Memang ada sebagian guru yang memilih untuk memulai pelajaran hanya dengan pengenalan singkat, namun menambahkan setidaknya satu.latihan pembuka pada rencana pengajara..

BAB III
PEMBAHASAN MASALAH

A. Methoda Belajar Tuntas.
1. Pentingnya Penerapan Belajar Tuntas.
Dalam pembelajaran tuntas selalu akan mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan individual atau perorangan siswa dimana masing-masing siswa memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam mencapai ketuntasan belajar, sehingga tidak bisa menyeragamkan siswa dalam pencapaian ketuntasan belajar, ada yang cepat, sedang dan lamban dalam mencapai ketuntasan belajar.
Methode belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang berazazkan maju berkelanjutan artinya jika siswa telah menguasai suatu KD maka ia akan terus berupaya untuk menguasai KD berikutnya, untuk mempermudah hal itu maka dalam metode ini materi pembelajaran dipecah-pecah menjadi satuan-satuan, jadai seorang siswa yang mempelajari unit satuan pelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pelajaran berikutnya jika siswa yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75 % ( KKM yang telah ditentukan ).
Hal tersebut berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional dimana dalam pembelajaran itu dilakukan dalam konteks klasikal yang sudah terbiasa dilakukan yang pendekatannya berpusat pada guru/Lembaga sedangkan metode yang banyak digunakan adalah metode ceramah dengan tatap muka sehingga sering kurang memperhatikan keseluruhan situasi belajarsiswa.

2. Bentuk Layanan Dalam Pembelajaran Tuntas.
Bentuk layanan dalam pembelajaran tuntas dapat dilakukan dalam tiga bentuk yaitu :
a. Pelaksanaan Program Remedial, melalui 2 cara yang dapat ditempuh yaitu dengan : (1) Pemberian bimbingan secara khusus dan perorangan bagi siswa yang belum atau mengalami kesulitan dan (2) Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran regular. Adapun bentuk penyederhanaan dapat dilakukan a.l. melalui : penyederhanaan isi / materi pembelajaran; penyederhanaan cara penyajian (misalnya: banyak penggunakan gambar, model, skema, grafik, memberikan rangkuman yang sederhana, dll.); dan penyederhanaan soal / pertanyaan
Adapun materi dan waktu pelaksanaan program remedial ini dilakukan dengan teknik memberikan hanya pada KD-KD yang belum dikuasai yang dapat dilaksanakan :
a. Setelah mengikuti tes / ujian KD tertentu
b. Setelah mengikuti tes / ujian blok atau kesatuan KD tertentu
c. Setelah mengikuti tes / ujian semester. Khusus untuk remedi akhir semester hanya diberlakukan untuk blok terakhir dari blok-blok yang ada pada semester tertentu.
b. Pelaksanaan Program Pengayaan, yang dapat ditempuh melalui : (1) Pemberian bacaan tambahan atau berdiskusi yang bertujuan memperluas wawasan bagi KD tertentu; (2) Pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/paragraph, dll.; (3) Memberikan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan; (4) Membantu guru membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan.
c. Pelaksanaan Program Percepatan (Akselerasi) yakni bagi siswa yang memang memiliki kemampuan lebih, dia dapat mempercepat pencapaian ketuntasan belajar melebih siswa yang lain, misalnya seorang siswa dapat menempuh program pembelajan yang seharusnya ditempun selama 2 semester, ia dapat menempun dalam 1 atau 1,5 semester saja, dan telah mampu mencapai tingkat ketuntasan belajar yang ditetapkan, sehingga siswa tersebut dakan lebih cepat menuntaskan ketuntatasan belajarnya.

3.Implikasi Pembelajaran Tuntas.
Adapun Implikasi diterapkannya pembelajaran tuntas adalah, (a) disusunnya program layanan remidial, pengayaan dan percepatan; (b) Adanya pengembangan modul pembelajaran untuk masing-masing program tersebut; (c) Terlayaninya siswa secara individual dalam proses pembelajaran.

B. Faktot-Faktor Yang Mempengaruhi Ketuntasan belajar.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam ketuntasan belajar sebenarnya tidak jauh berbeda dengan factor-faktor yang berpengaruh dalam proses pembelajaran yaitu (1) factor eksternal, yang meliputi kondisi lingkungan yang berpengaruh baik langsung mapun tidak langsung terhadap siswa, seperti ruang belajar, suasana lingkungan, kelengkapan alat belajar, kondisi keluarga, keadaan ekonomi keluarga, dan lain sebagainya termasuk guru, gedung sekolah, kelas,dsb.; (2) factor internal yaitu kondisi dalam diri siswa itu sendiri, yang meliputi kecerdasan, bakat, minat, kemampuan, perhatian, kesehatan fisik mapun psikis/mental,dsb.

C. Cara Mendorong Agar Siswa Aktif Dalam pembelajaran.
Agar siswa dapat termotivasi untuk aktif dalam proses pembelajaran maka perlu ditinggalkan paradigma lama yakni janganlah lagi guru dipandang sebagai “ yang tahu segalanya “, melainkan sebagai katalisator terjadinya proses belajar siswa dan secara terus menerus berusaha menyempurnakan diri sehingga mampu menjadi katalisator yang semakin meningkat keampuhannya. Siswa jangan dijadikan objek tapi siswa sebagai subjek, siswa bukan menjadi penonton tapi ia sebagai pelaku dalam setiap proses pembelajaran.
Disamping itu, kemampuan guru untuk secara jeli mencari berbagai strategi pembelajaran sangatlah penting, sehingga siswa akan merasa tertarik untuk selalu meningkatkan kompetensinya sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dimana cirri-ciri pembelajaran KBK adalah antara lain :
Orientasi pada pencapaian hasil dan dampaknya ( outcome oriented )
Berbasis pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Bertolak dari kompetensi lulusan
Pengembangan kurikulum berddiferensi
Utuh dan menyeluruh serta menerapkan prinsip ketuntasan belajar.
BAB IV
Kesimpulan

Dari apa yang telah dipaparkan diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.Belajar tuntas adalah belajar yang mengaacu pada penguasaan satuan program pembelajaran yang harus dapat dicapai oleh setiap siswa, belajar tuntas dapat diterapkan melalui pembelajaran remedial, pengayaan dan percepatan (akselerasi)
2.Dalam proses pembelajaran untuk mencapai ketuntasan belajar banyak factor yang berpengaruh yaitu factor eksternal dan internal siswa.
3.Pembelajaran dengan metode belajar aktif memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa.
4.Penerapan metode belajar aktif yang dipadukan dengan teknik pembelajaran tuntas (Remidial, pengayaan dan percepatan ) mempunyai pengaruh positif ,yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
5.Dalam mencapai ketuntasan belajar dan mendorong agar siswa aktif dalam proses pembelajaran diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru untuk menerapkan strategi pembelajaran yang tepat. Untuk guru perlu selalu secara terus menerus meningkatkan profesionalisas dan kompetensinya.

=== o)oo(o ===

Advertisements
Published in: on February 9, 2009 at 2:47 pm  Leave a Comment  

Bukan Yang Terbaik Tapi Ingin Selalu Leb …

Bukan Yang Terbaik Tapi Ingin Selalu Lebih Baik

Published in: on November 3, 2008 at 7:36 am  Leave a Comment  

MY HOPE

Harapanku adalah semoga kedua anakku dapat sukses dalam menempuh pendidikannya, dan aku dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya di SMP Negeri 1 Kesugihan.

Banyak hal yang aku inginkan untuk memajukan sekolahku, antara lain :

1. Penataan ruang, agar lebih teratur dan mudah komunikasinya serta simple;

2. Kebersihan lingkungan, yang sementara ini masih terkesan kotor. Alhamdulillah kami sudah bekerja sama dengan dinas DKLH untuk masalah pembuangan akhir sampah.

3. Tercukupinya fasilitas laboratorium, Multimedia, olah raga, kesenian,dll. sehingga dapat membantu siswa dalam mengembangkan potensinya baik akademik maupun non akademik;

4. Suasana lingkungan yang kondusif dan penuh kekeluargaan serta kedisiplinan yang tinggi;

5. Terlaksananya kerjasama dengan berbagai pihak sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Published in: on November 2, 2008 at 4:04 am  Leave a Comment  

Tugas Ujian AKhir SPM

TUGAS UJIAN SMT II (TAKE HOME)

MM 21 UNSOED PURWOKERTO

MATA KULIAH : SPM

NAMA DOSEN : DR.AGUNG PRAPTAPA,MBA.

NAMA MAHASISWA : Susilo Budi Prakasya

N I R M/Angkatan : P2CC07082 / MM 21

SISTEM PENILAIAN KINERJA

( PERFORMANCE EVALUATION SYSTEM)

TERHADAP GURU PADA SMP NEGERI 1 KESUGIHAN

KABUPATEN CILACAP

  1. Pendahuluan

Sekolah sebagai suatu sistem, dalam proses pengelolaannya dilakukan secara sistematis, terprogram dan terukur serta melibatkan berbagai unsur stakeholder dan seluruh komponen sekolah. Ketika perencanaan pengelolaan manajemen pendidikan di sekolah dikerjakan dan struktur organisasi persekolahannyapun disusun guna memfasilitasi perwujudan tujuan pendidikan, serta para anggota organisasi, pegawai atau karyawan dipimpin dan dimotivasi untuk men­sukseskan pencapaian tujuan, tidak dijamin selamanya bahwa semua kegiatan akan berlangsung sebagaimana yang direncana­kan. Proses Evaluasi sebagai salah satu komponen strategis dalam pengendalian manajemen sekolah itu penting karena merupa­kan mata rantai terakhir dan kunci dari proses manajemen. Kunci penting dari proses manajemen sekolah yaitu nilai fungsi pengawasan sekolah terletak terutama pada hubung­an­nya terhadap pe­rencana­an dan kegiatan-kegiatan yang didelegasikan

Pengawasan sebagai salah satu bentuk penilaian kinerja (performance evaluations) dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan (Robbins 1997). Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen yang diperlukan untuk mengevaluasi kinerja organisasi atau unit-unit dalam suatu organisasi guna menetapkan kemajuan sesuai dengan arah yang dikehendaki (Wagner dan Hollenbeck dalam Mantja 2001).

Oleh karena itu mudah dipahami bahwa evaluasi pendidikan adalah fungsi manajemen pendidikan yang harus diaktualisasikan, seperti halnya fungsi manajemen lainnya Berdasarkan konsep tersebut, maka proses perencanaan yang mendahului kegiatan penilaian (evaluasi) harus dikerjakan terlebih dahulu. Perencanaan yang dimaksudkan mencakup perencanaan: pengorganisasian, wadah, struktur, fungsi dan mekanisme, sehingga perencanaan dan evaluasi memiliki standard dan tujuan yang jelas. Dalam proses pendidikan, evaluasi kinerja, pengawasan ataupun supervisi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah. Sahertian (2000:19) menegaskan bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru, baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran.

  1. Diskripsi Organisasi.

1. Bidang Usaha Kegiatan.

Bidang usaha dalam hal ini adalah usaha pelayanan pendidikan dalam satu satuan lembaga pendidikan yakni SMP Negeri 1 Kesugihan. Pendidikan merupakan proses yang berkelanjutan, terencana dan sistematis yang memiliki berbagai indicator keberhasilan baik dalam proses pengelolaan maupun hasil proses pengelolaan pendidikan di sekolah.

Salah satu bentuk kegiatan yang utama dalam proses pendidikan di sekolah adalah kegiatan pembelajaran yang dulu dikenal dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang mana dalam hal ini guru sebagai pengajar atau tenaga akademik (tenaga pendidik) sangat berperanan dalam mengelola kegiatan pembelajaran (KBM) tersebut. Untuk itu, sebagai seorang professional yang tentunya diharapkan akan selalu dapat meningkatkan kompetensinya disamping sebagai sebuah profesi, maka dalam periode tertentu perlu dilakukan evaluasi kinerja (performance evaluations) untuk mengukut seberapa berhasil guru menjalanjakan kegiatannya.

2. Struktur Organisasi.

Struktur organisasi dalam manajemn pendidikna di sekolah, khususnya pada SMP Negeri 1 Kesugihan, tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain yakni :

  1. Kepala Sekolah

  2. Kepala Tata Usaha

  3. Wakil Kepala Sekolah

  4. Urusan Kurikulum

  5. Urusan Kesiswaan

  6. Urusan Humas

  7. Urusan Sarana dan Prasarana

  8. Guru Mata Pelajaran

  9. Guru Bimbingan dan Konseling

  10. Wali Kelas

3. Performance Evaluation System

Penilaian kinerja guru yang masih berlaku sekarang adalah dengan menggunakan 2 cara, yaitu :

  1. Standar Kinerja dengan menggunakan Daftar Penilaian yang dikenal dengan DP3 ( Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) yang mengandung unsur-unsur penilaian :

    • Ketaatan

    • Prestasi Kerja

    • Tanggung Jawab

    • Ketaatan

    • Kejujuran

    • Kerjasama

    • Prakarsa

    • Kepemimpinan.

  2. Berdasarkan penilaian angka kredit, yaitu penilaian yang digunakan sebagai angka kredit untuk pengusulan kenaikan pangkat dimana setiap guru harus memenuhi standar penilaian kinerja sesuai dengan bidang profesinya. Adapun aspek yang dinilai meliputi :

  • Penyusunan Program kegiatan;

  • Pelaksanaan program kegiatan;

  • Pelaksanaan evaluasi pelaksanaan program;

  • Analisis hasil evaluasi pelaksanaan program;

  • Pelaksanaan tindak lanjut hasil analisis

  1. Dengan diadakan supervisi kelas, yaitu kegiatan untuk memonitoring secara langsung pelaksanaan kinerja guru dalam mengelola pembelajaran di kelas.

  1. Perlunya System Performance Evaluasi Baru.

Hakikat evaluasi sebagai salah satu system control atau pengawasan pendidikan pada hakikat substansinya adalah menunjuk pada segenap upaya bantuan supervisor yang dalam hal ini adalah Kepala sekolah, kepada stakeholder pendidikan terutama guru yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pembelajaran. Proses penilaian yang ditujukan kepada guru harus berdasarkan pada sistem dan prosedur yang cermat ,objektif serta mendalam dengan acuan perencanan program “evaluatioan system” yang telah dibuat secara systematis dan berkesinambungan, bukan hanya untuk kepentingan sesaat saja, karena evaluasi sebagai komponen dari manajemen pendidikan bertujuan untuk peningkatan mutu kinerja khususnya para guru.

Proses evaluasi kinerja yang diorientasikan pada upaya peningkatan kualitas proses dan hasil itu penting, sehingga evaluasi yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Jadi hasil evaluasi yang dilaksanakan itu harus mampu memperbaiki dan mengembangkan kinerja guru khususnya situasi belajar mengajar yang merupakan tugas utama profesi guru.

Dengan menyadari pentingnya upaya peningkatan mutu dan efektifitas sekolah dapat (dan memang tepat) dilakukan melalui performance evaluation system. Atas dasar itu maka kegiatan evaluasi harus difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan secara berke­sinambung­an pada sekolah tersebut secara umum. Meskipun sebenarnya indikator peningkatan mutu pendidikan di sekolah secara utuh bila dapat dilihat pada setiap komponen pendidikan antara lain: mutu lulusan, kualitas guru, kepala sekolah, staf sekolah (Tenaga Administrasi, Laboran dan Teknisi, Tenaga Perpustakaan), proses pembelajaran, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, implementasi kurikulum, sistem penilaian dan komponen-lainnya.

  1. Rancangan Performance Evaluation.

Dalam perspektif manajemen, agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu, maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management dibicarakan tentang manajemen kinerja,dikemukakan bahwa manajemen kinerja, sebagai: “sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Ini merupakan sebuah sistem. Artinya, ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan, kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi, manajer dan karyawan”.

Dari ungkapan di atas, maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan, melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru, didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang fungsi kerja esensial yang diharapkan guru. Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang, menentukan bagaimana kinerja harus diukur, mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala, serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu. Untuk itu perlu dikembangkan proses komunikasi yang berkesinambungan di mana kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai perkembangan kerja, hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul, solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah, dan bagaimana kepala sekolah dapat membantu guru. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi besar.

Rancangan Evaluasi Kinerja. Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja, yang merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. Ini dipakai untuk menjawab pertanyaan, “ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu periode tertentu ?”. Metode apapun yang dipergunakan untuk menilai kinerja, penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. Pertama, tidak mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain, atau “selalu salahnya guru”. Kedua, tiada satu pun taksiran yang dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. Penilaian kinerja hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut.

Sementara itu, Karen Seeker dan Joe B. Wilson (2000) memberikan gambaran tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus manajemen kinerja, yang terdiri dari tiga fase yakni : 1. perencanaan, 2. pembinaan, dan 3. evaluasi. Perencanaan, merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran, tanggung jawab, dan ekpektasi yang terukur. Fase pembinaan,– di mana guru dibimbing dan dikembangkan – mendorong atau mengarahkan upaya mereka melalui dukungan, umpan balik, dan penghargaan. Kemudian dalam fase evaluasi, kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. Rencana terus dikembangkan, siklus terus berulang, dan guru, kepala sekolah, dan staf administrasi , serta organisasi terus belajar dan tumbuh. Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan keluaran, yang pada gilirannya, menjadi masukan fase berikutnya lagi. Semua dari ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan ketiganya harus diperlakukan secara berurut. Perencanaan harus dilakukan pertama kali, kemudian diikuti Pembinaan, dan akhirnya Evaluasi.

Disain Evaluasi Kinerja Guru. Dengan tidak bermaksud mengesam pingkan arti penting perencanaan kinerja dan pembinaan atau komunikasi kinerja. Di bawah ini akan dipaparkan tentang evaluasi kinerja guru. Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. Dalam hal ini, Ronald T.C. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan, yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs), dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran, serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah, pengawas pendidkan atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas.Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang evaluator (Kepala Sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan : (1) keterampilan-keterampilan dalam mengajar; (2) bersifat seobyektif mungkin; (3) komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi, dan (4) dikaitkan dengan pengembangan profesional guru .

Prosedur Evaluasi Kinerja Guru. Dengan mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru dan dengan mengguna kan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru, diharapkan dapat memberikan penilaian secara lebih akurat dan objektif. Beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator yang dalam hal ini adalah Kepala Sekolah antara lain :

1. Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. Kendati demikian, untuk memperoleh tujuan ini, evaluator dalam menentukan hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable)

2. Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan – catatan dalam kelas. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan-tujuan pengajaran. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas, seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran , proses pengajaran dan testing (evaluasi).

3. Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator, seperti : siswa, rekan sejawat, dan tenaga administrasi. Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi, pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah dan pengawas.

  1. Penutup

Dari apa yang dipaparkan diatas maka dapatlah dipahami bahwa penilaian kinerja guru merupakan salah satu stragegi dalam peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan di sekolah, penilaian yang dilakukan secara langsung dalam kelas dapatmemberikan gambaran tingkat kompetensi guru dalam proses pengelolaan pembelajaran di kelas, sedang penilaian administrasi guru merupakan penilaian terhadap profesionalisme guru dalam merancang dan mendesain proses pembelajaran yang akan dilaksanakannya dan setelah pelaksanaannya.

Evaluasi kinerja sebagai proses yang berkelanjutan hendaknya setiap hasil evaluasi dilaporkan dan dikomunikasikan dan diskusikan dengan guru yang bersangkutan karena komunikasi dan diskusi pasca-observasi dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Dalam hal ini, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator : (1) penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak; (2) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru; (3) menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi; (4) menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik; (5) memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak .

Demikian Rancangan system penilaian kinerja terhadap guru pada SMP Negeri 1 Kesugihan yang akan diterapkan sebagai upaya untuk peningkatan kualitas pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan khususnya pada SMP Negeri 1 Kesugihan secara umum. Tentunya, inovasi system penilaian akan selalu dilakukan, karena tidak ada satupun system evaluasi yang sempurna, lebih baik berkolaborasi antar system penilaian untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

== )oOo( ==

Published in: on November 2, 2008 at 3:55 am  Leave a Comment  

Aja dumeh

Manusia itu janganlah bersikap dumeh, dumeh wis pinter..dumeh wis sugih,dumeh  gagah apa  ayu, dumeh apa bae kuwe ora kena, sebab menungsa kuwe ana batese ora ana wong sing paling hebat. Mulane kudu pada andhap asor, blaka suta ora usah gengsi, apa anane bae, Insya Allah uripe bakal tenang. Nek kepengin ngangsu kawruh apa arep gendhu-gendhu rasa kirim nang blog kene bae, mengko tek tanggapi.

Published in: on August 3, 2008 at 2:52 pm  Leave a Comment  

Ujian SIM – Susilo Budi P

PEMBAHASAN SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER
MM 21 UNSOED PURWOKERTO

MATA KULIAH : Sistem Informasi Manajemen
NAMA DOSEN : Ali Rokhman,Ph.D
NAMA MAHASISWA : Susilo Budi Prakasya
N I R M/Angkatan : P2CC07082 / MM 21

PENERAPAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
PADA SMP NEGERI 1 KESUGIHAN – KABUPATEN CILACAP

A. Latar Belakang.
Pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi, khususnya dalam bidang tekhnolgi informasi memudahkan orang dalam melakukan berbagai kegiatan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang melayani banyak siswa yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat dengan berbagai corak, karakter dan budaya, tentulah membutuhkan pelayanan yang cepat, tepat dan aktual.
Berbagai informasi tentang perkembanganan psikologis,sikap perilaku, prestasi dan potensi siswa sangat dibutuhkan bukan hanya oleh pihak sekolah namun juga oleh masyarakat khususnya yang menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Hal ini berkaitan dengan asal wilayah setiap siswa saling berbeda dan kompleks bahkan ada yang cukup jauh dari sekolahan, sehingga apabila ingin mengetahui perkembangan pendidikan anaknya di sekolah tersebut sering orangtua terkendala oleh jarak tempat dan waktu.
Disamping itu bagi sekolah sendiri, mengelola data ratusan siswa seperti hasil nilai ulangan,identitas,prestasi,masalah dan berbagai kegiatan siswa serta data-data lain yang berhubungan dengan pengelola sekolah seperti data tentang guru,karyawan termasuk keadaan fisik,keuangan dan lain-lain, diperlukan proses yang cepat,akurat dan transparan. Demikian pula halnya dengan berbagai informasi dari luar yang dibutuhkan sekolah, juga diperlukan peng-aksesan yang cepat dan akurat agar sekolah dapat selalu mengikuti perkembangan ilmu dan tekhnologi serta berbagai perkembangan dunia.
Oleh karena itulah, sudah saatnya SMPN.1 Kesugihan sebagai suatu institusi lembaga pendidikan perlu menerapkan sistem informasi manajemen dengan menggunakan tekhnologi yang modern.

B. Tinjauan Pustaka Tentang Sistem Informasi.
Pengertian.
Sistem Informasi adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan yang berfungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pembuatan keputusan dan pengawasan dalam organisasi.
Pentingnya Sistem Informasi bagi Manajer
Pada dasarnya manajer mengelola lima jenis sumber daya utama (McLeod,1995) yaitu :
1. Manusia (Man)
2. Material.
3. Mesin (termasuk fasilitas energi)
4. Uang
5. Informasi
( Sistem Informasi Manajemen,Amin Wibowo,2006:2)
Salah satu dari lima jenis sumber daya utama itu adalah Informasi, yang berarti bahwa seorang manajer harus bisa mengelola informasi untuk berbagai kepentingan organisasi. Organisasi yang tidak memiliki sistem informasi yang memadai akan menghambat kegiatan-kegiatannya dan juga produktifitasnya. Pengelolaan informasi tidak kalah pentingnya dengan sumber daya lainnya, karena kepentingan informasi sangat dibutuhkan dalam setiap aspek kegiatan organisasi.
Aktivitas Sistem Informasi.
Ada tiga aktivitas sistem informasi, yaitu input, processing dan output. Input,adalah sekumpulan data mentah dalam organisasi maupun luar organisasi untuk diproses dalam suatu sistem informasi. Processing adalah konversi/pemindahan,manipulasi dan analisis input mentah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi manusia. Output adalah distribusi informasi yang sudah diproses ke anggota organisasi dimana output tersebut akan digunakan. Dalam hal ini, informasi juga membutuhkan umpan balik yakni output yang dikembalikan ke anggota organisasi yang berkepentingan untuk membantu mengevaluasi atau memperbaiki input.

C. Output yang dihasilkan oleh Sistem Informasi
Sistem informasi sebagai suatu piranti tekhnologi dapat memproses berbagai input data untuk dijadikan sebagai output yang dibutuhkan oleh sekolah maupun masyarakat Output yang dihasilkan oleh sistem informasi itu antara lain adalah :
– Identitas dan latar belakang siswa;
– Prestasi akademik maupun non akademik yang telah diraih siswa maupun sekolah;
– Mutasi siswa;
– Sumber pembelajaran ;
– Tingkat ketuntasan belajar siswa;
– Tingkat kenakalan dan pelanggaran disiplin
– Tingkat absensi siswa, guru dan karyawan
– Tentang ketenagaan sekolah;
– Tentang fasilitas dan inventaris sekolah.

D. Kualitas Informasi yang dihasilkan.
Dengan menggunakan sistem informasi yang modern, maka kualitas informasi yang dihasilkan akan lebih baik, hal ini oleh karena dengan sistem informasi tersebut, informasi akan lebih mudah dan cepat diakses sehingga segala informasi akan lebih akurat, jelas dan langsung dapat diakses oleh penerima.
Untuk kepentingan sekolah, kualitas informasi yang dihasilkan diperlukan untuk menentukan kebijakan terhadap penyususan rencana strategis (RENSTRA) maupun rencana operasional (RENOP). Disamping itu, juga untuk menentukan kebijakan dalam penentuan kenaikan kelas maupun kelulusan siswa.

E. Hambatan Dalam Penerapan Sistem Informasi.
Hambatan yang sering dialami dalam penerapan sistem informasi adalah ;
1. Kualitas sumber daya manusia, yakni belum adanya tenaga khusus disekolah yang menangani sistem informasi, sedangkan kebanyakan sistem informasi masih kebanyakan masih menggunakan sistem tradisional manual;
2. Belum tersedianya peralatan dan fasilitas yang memadai, jumlah komputer yang relatif sedikit serta jaringan internet yang belum memadai;
3. Anggaran yang belum memadai, hal ini mengingat bahwa untuk mendatangkan sistem informasi menajemen yang canggih diperlukan pembiayaan yang cukup besar,sedangkan dalam APBS alokasi untuk itu relatif kecil.
4. Kurangnya dukungan dari masyarakat, oleh karena masyarakat belum begitu mengenal tekhnologi informasi yang modern;

=== ooOoo ===

Published in: on August 2, 2008 at 5:12 am  Comments (1)  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Published in: on July 10, 2008 at 3:23 am  Comments (1)